IIPS's Process Safety Management Concept (14 element)

1. Accountability
Agar program pengelolaan process safety menjadi efektif, adalah sangat penting bahwa tanggung jawab secara jelas diberikan, dan mereka yang diberi tanggung jawab dibuat accountable . Tujuan untuk membentuk accountability adalah (1) untuk mendemonstrasikan status process safety sebagai salah satu fungsi manajemen dalam hubungan dengan tujuan bisnis yang lain dan untuk menekankan pentingnya menentukan kriteria untuk operasi yang selamat dari pabrik kimia, dan (2) untuk memperkuat nilai dari penentuan tujuan keselamatan, yang kemudian dapat digunakan sebagai basis untuk memonitor kinerja dan membuat keputusan bisnis. Beberapa indikator khusus yang menunjukkan bahwa process safety management accountability diperhatikan dalam suatu organisasi meliputi;

•  Pernyataan kebijakan

•  Komitmen manajemen

•  Persyaratan prosedur

•  Pengukuran kinerja individual

2. Process Safety Information and Documentation
Process Safety Information adalah data-data yang menggambarkan proses dan kimianya. Data ini mewakili apa yang organisasi ketahui tentang basis kimia dan fisika dari proses. Data ini mencakup:

•  Bahaya material

•  Definisi proses dan kriteria desain

•  Basis desain proses dan peralatan

•  Dokumentasi keputusan manajemen resiko

•  Sistem proteksi

•  Kondisi normal dan abnormal

•  Bahaya kimia dan kesehatan kerja

PSID akan menjadi fondasi dari pengenalan dan pemahaman bahaya yang terlibat.

3. Capital Project Process Design Review and Procedures
Capital project adalah perubahan yang melibatkan pengeluaran capital . Karena capital project mungkin melibatkan perubahan peralatan atau teknologi, formal safety review sebaiknya dilakukan. Jumlah dan jenis project safety review seharusnya sesuai dengan ukuran, kompleksitas, dan karakter dari project. Project safety review adalah elemen yang kritikal untuk memastikan bahwa perubahan besar atau penambahan peralatan atau teknologi dilakukan dengan selamat.

Appropriation request procedure sebaiknya mencakup tinjauan desain keselamatan proses dengan persetujuan yang tepat dari manajemen pabrik untuk berbagai tahap dari perubahan besar yang diusulkan (tahap konseptual, rekayasa dasar, rekayasa rinci, konstruksi dan commissioning ). Tingkat kedalaman dari setiap tinjauan bervariasi tergantung pada ukuran dan kompleksitas setiap perubahan besar.

4. Process Hazard and Risk Management
Process hazard and risk management
meliputi identifikasi, evaluasi, dan pengendalian bahaya potensial yang mungkin terkait dengan operasi sekarang, modifikasi, proyek baru, akuisisi, dan kegiatan pelanggan/ supplier .

Resiko proses yang harus diidentifikasi, dikurangi, dan dikelola adalah resiko yang berhubungan dengan potensi pelepasan material yang reaktif, eksplosif, beracun, dan mudah terbakar.

Komponen-komponen kunci dari program process risk management secara umum meliputi:

  • Identifikasi bahaya
  • Penilaian resiko operasi
  • Pengurangan resiko
  • Residual risk management
  • Manajemen proses selama keadaan darurat
  • Penganjuran kepada klien dan pemasok untuk mengadopsi praktek risk management yang sama
  • Pemilihan bisnis dengan resiko yang dapat diterima

5. Management of Change
Setiap perubahan mewakili penyimpangan dari desain, fabrikasi, instalasi, atau operasi asli dari proses. Perubahan, yang sederhana sekalipun, jika tidak dikelola dengan baik, dapat menyebabkan konsekuensi katastropik.

Ada tiga jenis perubahan yang sebaiknya dikelola pada fasilitas: teknologi, fasilitas, dan organisasi. Perubahan teknologi menyangkut modifikasi terhadap prosedur atau parameter operasi, penggunaan bahan kimia baru, dan perubahan peralatan. Perubahan fasilitas menyangkut modifikasi yang melibatkan penggantian peralatan dengan penggantian “ not-in-kind ”, baik sementara atau permanen. Perubahan organisasi berkisar dari penggantian anggota baru ke penghilangan posisi.

Pada perubahan teknologi, prosedur operasi harus tersedia sebelum proses diubah, dan orang yang terlibat telah diberi training . Dokumentasi mencakup update dari proses safety information (seperti gambar P&ID).

Perubahan kecil yang tidak termasuk “ replacement in kind ” (seperti penggantian material trim dari control valve ) termasuk sebagai perubahan dan harus ditinjau oleh orang yang qualified dan disetujui sebelum fasiltas diubah dan dioperasikan. Definisi dari “ replacement in kind ” harus diketahui secara mendalam di dalam organisasi.

Prosedur perubahan personnel meliputi antara lain: petunjuk tentang tingkat minimum pengalaman, keterampilan dan pengetahuan dari masing-masing posisi dan untuk mereka yang ada di operasi proses berbahaya, training untuk pegawai baru (termasuk demosntrasi lapangan) tentang prinsip-prinsip keselamatan proses dan PSI di daerahnya, dan tinjauan periodik tentang kemampuan dari mereka yang bekerja di daerah berbahaya.

6. Process and Equipment Quality Assurance and Mechanical Integrity
Process equipment integrity
harus dipertimbangkan pada semua tahap dari hidup peralatan dari mulai desain awal, fabrikasi, instalasi dan operasi sampai peralatan dibongkar. Element ini mencakup sistem pemastian mutu (QA) selama proses fabrikasi, instalasi, dan perbaikan peralatan, termasuk juga sistem untuk preventive maintenance selama hidup peralatan.

Quality assurance memverifikasi bahwa peralatan proses memenuhi standar berikut:

•  Difabrikasi sesuai dengan spesifikasi desain

•  Dikirim pada tempat yang benar

•  Dirakit dan dipasang secara benar

Mechanical Integrity berpusat pada pemeliharaan dan perbaikan integritas sistem untuk menampung/mengolah bahan berbahaya dan mengendalikan bahaya mekanis selama hidup fasilitas. Ini meliputi prosedur maintenance , training dan kinerja personel maintenance , prosedur quality control, dan tes dan inspeksi peralatan.

7. Safety Lifecycle Management on Functional Safety
Safety lifecycle management
adalah pengendalian yang integral dari aktifitas-aktifitas manajemen keselamatan pada setiap fase dari daurhidup keselamatan ( safety lifecycle ). Pengendalian berbasis pada penerapan model daurhidup keselamatan yang terstruktur, yang merupakan kerangka kerja pada mana sistem manajemen keselamatan dibentuk.

Safety lifecycle mensyaratkan agar setiap fase mulai dari fase konseptual dari proyek sampai decommissioning , perencanaan keselamatan perlu dibuat untuk menentukan kriteria, teknik, ukuran, dan prosedur untuk memastikan persyaratan keselamatan pada semua proses tercapai, memastikan pemasangan dan commissioning peralatan yang baik, memastikan integritas peralatan selama operasi, dan mengelola bahaya proses selama proses maintenance .

8. Contractor and Supplier Safety Management
Pengelolaan kontraktor dan pemasok adalah bagian kritikal dari pemastian bahwa pekerjaan dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip yang ada dan praktek yang dipersyaratkan PSM. Kontraktor dan pemasok perlu di training untuk mengetahui bahaya dari proses di mana mereka bekerja dan untuk memahami semua prosedur dan aturan keselamatan dari pabrik. Kontraktor harus memastikan bahwa semua pegawainya telah terlatih dan berkualitas. Manajemen pabrik berkewajiban memastikan bahwa kontraktor dan pemasok memenuhi aturan dan kewajiban mereka.

Isu keselamatan besar yang mendasar pada kontraktor dan pemasok adalah: kemungkinan terjadinya cedera akibat praktek kerja yang tidak selamat, koordinasi pekerjaan yang melibatkan banyak kontraktor, akuntabilitas tertinggi dari semua pekerjaan yang berlangsung di pabrik ada pada manajemen pabrik, tidak adanya pelatihan keselamatan meskipun kemampuan teknis mereka mencukupi, kurangnya kemampuan manajerial dan supervisor terutama pada kontraktor lokal.

Tujuan jangka pendek dari hubungan pabrik dan kontraktor/ supplier adalah pemenuhan kontrak dari sisi biaya, kualitas, waktu dan juga keselamatan. Pada jangka panjangnya, kedua belah pihak menginginkan kesinambungan hubungan bisnis yang saling menguntungkan.

9. Human Factor
Human factor memainkan peranan penting dalam banyak kejadian kecelakaan di industri kimia. Human factor adalah penerapan apa yang diketahui tentang manusia terhadap desain dari sistem teknikal dan peralatan untuk meningkatkan keselamatan dan produktifitas melalui interaksi manusia-sistem yang efisien dan efektif. Sistem PSM harus mempertimbangkan dampak dari perilaku, kemampuan fisiologikal dan fisikologikal yang ada terhadap antarmuka antara manusia dan lingkungan kerja.

10. Training, Competence and Performance
PSM mensyaratkan bahwa orang-orang di keseluruhan organisasi memahami peran dan tanggung jawab mereka, dan mempunyai pengetahuan dan keterampilan ( skill ) untuk melaksanakan peran dan tanggung jawabnya. Program training membantu setiap orang di seluruh organisasi untuk mampu memberikan kontribusi dalam penerapan PSM. Selain itu, penerapan program training yang khusus untuk pabrik akan memastikan pegawai memahami bahaya keselamatan proses yang terkait dengan pekerjaan mereka dan perhatian yang diperlukan untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan. Semua program training harus terdokumentasi dan sistem umpan balik harus dibuat untuk manajemen pabrik untuk mengevaluasi apakah program training memenuhi tujuan dari manajemen untuk operasi yang selamat.

Program training sebaiknya didesain secara spesifik untuk berbagai fungsi di dalam pabrik seperti orang teknikal, operator, pegawai maintenance , supervisor , dan staf SHE. Kursus penyegaran periodik harus dimasukkan ke dalam sistem manajemen. Tidak kalah penting adalah menyediakan sistem di mana perubahan, informasi baru dan pelajaran ( lesson learned ) dari kecelakaan proses kimia selalu dikomunikasikan ke pegawai dan dimasukkan ke dalam program training .

Pegawai yang berpengetahuan, mendapatkan training yang cukup, dan terampil tidak menjamin operasi yang bebas dari human error . Karyawan juga dituntut untuk secara fisik mampu, secara mental waspada, dan mampu menggunakan pertimbangan ( judgement ) yang baik untuk mengikuti praktek yang ditentukan.

11. Incident Investigation, Communication and Emergency Response
Sistem incident investigation adalah elemen penting dari PSM untuk menentukan penyebab dasar dari incident dan dengan demikian mencegah terulangnya incident yang sama. Sistem pelaporan dan investigasi semua incident harus ada, digunakan dan efektif dalam menetukan penyebab dasar dan mencegah keterulangan. Sistem harus mencakup tindakan untuk mengkoreksi kekurangan sistem manajemen dan penyebarluasan temuan dan rekomendasi. Tingkat partisipasi manajemen di dalam investigasi sebaiknya dimasukkan ke dalam sistem investigasi yang ditentukan oleh tingkat keparahan dari kejadian. Jika ada kemungkinan litigasi dari pihak ketiga, hal ini sebaiknya ditinjau oleh bagian legal.

Penanganan informasi yang dihasilkan dari kejadian yang tidak diinginkan memberikan ukuran tentang keefektifan dari sistem PSM. Informasi tentang penyebab incident tidak hanya memberikan basis bagi tindakan korektif yang baik dan tepat, tetapi juga memberikan pelajaran berguna bagi masa datang, yang mungkin akan membawa perbaikan di dalam sistem manajemen untuk keselamatan proses kimia.

12. Standards, Codes and Regulations
Sistem manajemen diperlukan untuk memastikan bahawa berbagai publikasi panduan/petunjuk, peraturan, dan standar baik eksternal maupun internal dijaga kebaruannya dan disebarluaskan ke semua departemen dan pegawai. Pada beberapa kasus, program training dan komunikasi perlu dibuat untuk memastikan pemahaman atas peraturan pemerintah dan petunjuk/panduan perusahaan. Variance procedures sebaiknya menjadi bagian dari sistem manajemen untuk memastikan bahwa setiap perubahan memenuhi tujuan dari standar, peraturan atau petunjuk dan tidak bertentangan dengan keselamatan proses.

13. Process Safety Audits and Corrective Actions
Tujuan dari program audit yang dilakukan di pabrik adalah untuk memberikan umpan balik terhadap usaha-usaha keselamatan proses seperti menentukan apakah prosedur lengkap, akurat, terbaru dan sesuai dengan peraturan dan praktek keselamatan proses yang baik, atau menentukan status, kemajuan dan keefektifan dari usaha manajemen keselamatan terhadap harapan dan tujuan yang telah dibuat. Tinjauan periodik dan dokumentasi aktifitas pabrik di dalam mengelola keselamatan proses adalah persyaratan dari banyak kebijakan perusahaan.

Program audit terdiri atas pemisahan program PSM ke dalam elemen-elemennya dan mengaudit setiap elemennya untuk menentukan tingkat keefektifan aktual terhadap yang diinginkan, pembuatan tindakan korektif untuk memperbaiki kinerja, dan melaporkan dan mendokumentasikan temuan dan tindak lanjut.

Selain memperbaiki PSM, audit juga merupakan sarana perbaikan aspek operasi, maintenance , dan engineering dari pabrik.


14. Enhancement of Process Safety Knowledge
Sistem manajemen untuk program keselamatan proses kimia sebaiknya mencari perbaikan berkelanjutan di dalam usaha pengelolaan penyimpanan, penggunaan, atau pembuatan bahan berbahaya. Peningkatan pengetahuan manajemen keselamatan proses adalah sangat penting untuk menciptakan program yang dinamis yang membangun pengalaman dan pengetahuan di dalam perusahaan dan memasukkan kemajuan teknologi yang sangat pesat di dalam industri.

Pengetahuan yang perusahaan dapat dari laporan incident, catatan maintenance , kasus-kasus, dan analisis kecenderungan kondisi abnormal memberikan informasi dan perubahan dasar yang dapat membantu mencegah kejadian katastropik. Pengumpulan dan penggunaan informasi ini juga dapat membawa perbaikan keuntungan dan produktifitas. Semua komponen dan elemen dari PSM memberikan kesempatan perbaikan dan peningkatan manajemen keselamatan proses.

 



ID member


password


Join to be a member click here



Copyright ©2004 www.iips-online.com®. All rights reserved.